Saya menuju Hotel Premiere
Class yang terletak di perbatasan Perancis dan Luxemburg. Dalam perjalanan
menuju Thionville saya sempat mampir ke rest area untuk buang air dan makan
malam di Burger King. Disana juga ada minimarket yang menjual berbagai snack. Selain
snack ternyata minimarket itu juga menjual alat-alat untuk kebutuhan lain,
seperti chasan hanphone, case, dan ternyata juga menjual boneka-boneka lucu. Lalu
saya melanjutkan perjalanan saya menuju hotel.
Malam hari, rombongan group
saya tiba di Hotel Premiere Class Thionville. Tempat menginap kali ini terasa
begitu nyaman, dan tentunya berada dalam satu bangunan yang sama sehingga
rombongan tidak terpisah-pisah. Setelah melakukan packing koper yang semakin
penuh dengan oleh-oleh, semua anggota group saya tertidur lelap.
Hari ketujuh, 17 September
2015. Pukul 06.00 pagi waktu Luxemburg, saya bersiap mandi dan mengenakan kostum
tampil, lalu saya menuju ruang makan untuk makan sarapan semangkuk sereal, roti
selai cokelat nuttela, dan secangkir susu segar. Pukul 07.30 setelah sarapan
saya dan group saya meninggalkan Hotel Premiere Class untuk melintasi Luxemburg
menuju Jerman yaitu di kota Aachen. Dalam perjalanan melintasi Luxemburg, saya
menikmati pemandangan yang begitu indah. Rumah-rumah dengan atap meruncing,
rumput-rumput hijau, dan pemandangan khas lainnya.
Sambil menikmati perjalanan
saya dan group saya melakukan pemanasan suara, berlatih untuk persiapan
penampilan di depan Bapak Walikota Aachen.
Memasuki kota Aachen, saya
dan rombongan segera turun dari bus dan berjalan kaki di pandu dengan mahasiswa
Universitas Aachen menuju Kantor Walikota Aachen. Perjalanan yang cukup jauh
tetapi sangat seru karena teman-teman saya sandal slopnya pada jebol dan
memutuskan berjalan kaki dengan kaki telanjang (nyeker) untungnya sandal saya
tidak rusak tetapi memang pegal untuk berjalan kaki jauh dengan memakai sandal
slop. Selain itu saya dan group saya juga membawa angklung masing-masing dengan
memakai kostum yaitu rok batik. Anginnya cukup kencang dan dingin jadi selama
perjalanan anggota perempuan termasuk saya sibuk memegangi angklungnya dan rok
agar tidak terbang terbawa angin haha.
Tiba di kantor walikota
Aachen, group saya bertemu ibu Ning. Ibu Ning ini sudah lama tinggal di Aachen.
Beliau yang membantu agar group saya dapat bertemu dengan bapak Walikota
Aachen. Sebagai orang yang sudah kenal lama dengan Bapak Walikota, Bu Ning
ingin memberikan sedikit hadiah dari Indonesia kepada Bapak Walikota Aachen
tersebut berupa sajian penampilan group saya, karena tahun ini merupakan tahun
terakhir Bapak Walikota tersebut bertugas.
Setelah penyambutan di dalam
ruangan utama kantor walikota, group saya memberikan kenang-kenangan untuk
Bapak Walikota Aachen. Group saya juga menyanyikan sedikit potongan lagu ‘Thank
you For The Music’ di depan beliau sebagai ungkapan terimakasih atas
penyambutannya. Potongan lagu tersebut ternyata berhasil memikat Bapak
Walikota.
Mungkin karena senang dengan
penampilan group saya, usai penyambutan tersebut Bapak Walikota bersedia
menjadi guide dan mengantar group saya berkeliling bangunan kantor nya yang
sudah berusia 800 tahun itu.
Memasuki lantai 3, ruangan
yang begitu megah dan atap ruangan yang tinggi dan dinding-dinding ruangan di
penuhi lukisan peninggalan sejarah, itu merupakan sebuah kehormatan bagi saya
dan group saya bisa memasuki ruangan itu. Ruangan itu biasanya dipakai untuk
acara-acara penting dan tidak sembarang orang bisa masuk ruangan itu. Didalam
gedung itu group saya mencoba menyanyikan 2 lagu untuk mengetahui bagamaina
suara yang dihasilkan bila bernyanyi di dalam ruangan itu, ternyata suara yang
dihasilkan sangat bagus dan membuat saya yang bernyanyi merinding.
Setelah diajak berkeliling,
Bapak Walikota mempersilhkan group saya mempersiapkan diri untuk penampilan
angklung di halaman depan kantor. Orang-orang yang berlalu lalang di depan
kanto berhenti sejenak untuk menyaksikan penampilan group saya.
Penampilan angklung dari
group saya membawakan 2 lagu yaitu ‘Gambang Suling’, dan ‘Besame Mucho’.
Setelah selesai membawakan 2 lagu, penonton semakin banyak mengerumuni group
saya. Usai mendengar lagu ‘Besame Mucho’, Bapak Walikota mendeketai guru saya
Kak Charles seraya membisikkan pesan ‘Please tell you student, tell them this
is my favorite song, because this is my wedding song..’ demikian katanya.
Mendengar Bapak Walikota berbicara seperti itu, saya dan group saya semakin
semangat membawakan lagu-lagu. Walupun tampil diluar ruangan hembusan angin
dingin yang cukup kencang,kami sangat bersemangat memainkan angklung-angklung
yang tertiup angin kencang. Kami memainkan lagu 2 lagu ‘We Are The Champion’,
dan ‘Rasa Sayange’ karena permintaan tambahan lagu dari penonton. Masyarakat
yang menonton sangat senang dan memberikan sambutan meriah. Akhirnya group saya
benear-benar menutup penampilannya. Setelah berfoto bersama Bapak Walikota.
Saya kembali berjalan kaki
melanjutkan perjalanannya. Kali ini saya dan group saya ditunggu di kampus
Universitas Aachen oleh Julia, Mahasiswa Jursuan Bahasa Inggris di kampus
tersebut. Julia mengajak berkeliling area kampus yang luas itu, dan sesekali
masuk kedalam ruang kuliah yang besar sekali seperti teater.
Suatu kebanggaan pula bagi
saya dapat diajak berkeliling di kampus tersebut, meningat dimasa lalu kampus
ini sempat menjadi tempat Bapak B.J Habibie ; Presiden ke-3 Indonesia,
menyelesaikan pendidikan s-2 dan s-3 melalui program beasiswa.
Setelah berkeliling dan
melihat-lihat Universitas Aachen, saya melanjutkan perjalanan meuju
Drielandenpunt, sebuah tempat dimana 3 negara yaitu Belanda, Jerman, dan
Belgia, bertemu di satu titik perbatasan.
























