Pukul jam 11.00, Usai
melakukan pemanasan anggota putrid group saya histeris saat melihat menara
Eiffel dari kejauhan. Setelah peristiwa heboh melihat Eiffel dari bus berlalu,
bus mulai mendekati kantor UNESCO.
Pukul 12.00, para tamu
undangan yang terdiri para duta besar berbagai negara dan pejabat lainnya sudah
hadir dalam ruang pertunjukan. Tamu-tamu kehormatan tersebut diundang untuk
makan siang menikmati kuliner Indonesia oleh Dubes Indonesia. Namun sebelum
menikmati hidangan, mereka dihibur lebih dahulu dengan penampilan paduan saura
dan angklung dari group saya yaitu Gita Swara Nassa (GSN).
Usai acara, saya menikmati
makan siang kuliner khas Indonesia. Di akhir acara bapak Dubes Indonesia yaitu
Bapak Fauzi Soelaiman memberikan sambutan khusus untuk tim GSN dan sedikit menjelaskan
tugas beliau sebagai duta besar Indonesia untuk UNESCO. Lalu group saya berfoto
bersama dan member kenang-kenangan kepada Bapak Fauzi.
Rombongan group saya
bergerak meninggalkan kantor UNESCO. Tentunya kali ini adalah waktu yang
dinantikan semua anggota rombongan, yaitu Free Time To EIFFEL TOWER. Usai
berganti pakaian, kunjungan pertama saya adalah monument Arch De Triomphe yang
seolah tugu selamat datang bagi para wisatawan di Paris. Tempat yang harus di
kunjungi sebelum menuju menara Eiffel, saya melanjutkan menelusuri Champ
Elysse, sebuah jalan panjang yang di sisi kanan kirinya dipenuhi dengan outlet
barang ber-merk kelas dunia. Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Eiffel Tower. Benar-benar perjalanan yang seru dan membuat sehat. Dari melintasi jembatan yang diatas Sungai Seine, akhirnya saya melihat Eiffel Tower. Meski menaranya masih terlihat kecil namun saya sudah tidak sabar untuk sampai di menara Eiffel tempat yang terkenal itu.
Akhirnya saya sampai di depan Eiffel Tower. Tampak tumpukan barisan panjang pengunjung yang ingin naik ke menara tersebut. Saya agak kecewa karena tidak bisa menaiki menara Eiffel tetapi kekecewaan itu pun hilang dengan membeli sebuah es krim seharga 4 euro yang sangat enak. Setelah berfoto dan menghabiskan waktu hari pun mulai gelap, saya dan group saya tidak bisa berlama-lama lagi di menara Eiffel. Karena bus sudah menanti membawa rombongan untuk menuju penginapan malam di Malakoff, pinggir kota Paris.
Hari sudah gelap saat saya
tiba di Malakoff. Sementara menunggu mendapat kamar hostel saya dan group saya
menikamti makan malam di depan kantor resepsionis Studio Penichio Mountroge.
Berubahnya pengaturan check in yang makan waktu lama membuat Mr. Adri sang
supir bus gelisah, karena bus tidak bisa parker lebih lama lagi di jalan itu.
Akhirnya saya dan group saya turun tanpa mengeluarkan koper dari bagasi, dengan
hanya membawa tas hand carry masing-masing.
Setelah meninggalkan lokasi,
barulah IO saya membagi-bagi tim untuk menempati kamar masing-masing. Ternyata
kamar yang dimaksud adalah rumah-rumah penduduk di sekitar komplek tersebut
yang memang di kosongkan dan disewakan, dan ruang resepsionis tadi adalah
kantor pemasaran dari rumah-rumah sewa tersebut. Jadilah setiap tim mendapatkan
kunci rumah dan denah lokasi rumah masing-masing yang kemudian harus dicari
sendiri dimana lokasi rumah-rumah tersebut. Lokasi rumah tersebut berjauhan
satu sama lain, sehinggal bisa dibanyangkan suasana cukup tegang dari
masing-masing tim dalam pencarian rumah yang akan ditempati, mengingat
rombongan tidak mengenal sama sekali situasi dan lingkungan sekita, ditambah lagi
hujan gerimis dan angin dingin.
Ada tim yang sukses
menemukan rumah yang dituju, namun ada juga tim yang tidak menemukan rumah yang
dituju termasuk saya. Saat saya mencari denah rumah tersebut, saya menanyakan
beberapa orang sekitar yang sedang menjaga toko mereka dengan bahasa inggris,
ternyata orang tersebut tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Karena orang
Perancis tidak mau memakai bahasa negara lain selain bahasanya sendiri. Lalu
saya melanjutkan mencari denah lokasi rumah yang saya tuju dengan melewati
bar-bar dan orang-orang yang sedang mabok menambah ketengangan saya. Pada malam
itu jam menunjukan pukul 23.00, bisa dibayangkan di negara orang jam 11 malam,
dinegara sendiri saja takut malam-malam masih diluar apalagi di negara orang.
Akhirnya saya menemui tim lain yang sedang menunggu kedapatan kamar.
Ternyata saat saya hampiri tim
lain, mereka tidak bisa masuk ke dalam kamarnya karena beberapa alasan dan
miskomunikasi antara resepsionis dan penyewa tempat tersebut. Semua cemas
bingung harus bagaimana akhirnya kami menunggu pertolongan dari IO dengan
memasang muka lelah. Dan finally kami mendapat tempat untuk menginap, dan saya
bergegas langsung menarik koper dan masuk kedalam penginapan untuk
beristirahat.
Hari Keenam, Rabu 16
september 2015. Pukul 07.30 saya dan tim saya harus bergegas minggalkan kamar,
untuk kembali menuju titik kumpul tempat resepsionis tadi malam. Pukul 08.00
seluruh anggota sudah berkumpul dan menunggu bus sambil menikmati pisang dan
roti. Saya dan teman saya saling berceloteh menceritakan kejadian semalam.
Pukul 08.30 bus tiba dan kembali masuk ke kota Paris dan mampir sejenak di
Paris Le Grande Mosque, sebuah masjid besar di Paris.
Usai berbelanja di Sacre
Couer, sore itu saya bergerak kearah Thionville, menuju Hotel Premiere Class
yang terletak di perbatasan Perancis dan Luxemburg.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar