Minggu, 02 Oktober 2016

Jadi Anggota Paduan Suara - Nyanyi di kantor UNESCO dan main ke menara Eiffel

Pukul jam 11.00, Usai melakukan pemanasan anggota putrid group saya histeris saat melihat menara Eiffel dari kejauhan. Setelah peristiwa heboh melihat Eiffel dari bus berlalu, bus mulai mendekati kantor UNESCO.


Pukul 12.00, para tamu undangan yang terdiri para duta besar berbagai negara dan pejabat lainnya sudah hadir dalam ruang pertunjukan. Tamu-tamu kehormatan tersebut diundang untuk makan siang menikmati kuliner Indonesia oleh Dubes Indonesia. Namun sebelum menikmati hidangan, mereka dihibur lebih dahulu dengan penampilan paduan saura dan angklung dari group saya yaitu Gita Swara Nassa (GSN).

Usai acara, saya menikmati makan siang kuliner khas Indonesia. Di akhir acara bapak Dubes Indonesia yaitu Bapak Fauzi Soelaiman memberikan sambutan khusus untuk tim GSN dan sedikit menjelaskan tugas beliau sebagai duta besar Indonesia untuk UNESCO. Lalu group saya berfoto bersama dan member kenang-kenangan kepada Bapak Fauzi. 



Rombongan group saya bergerak meninggalkan kantor UNESCO. Tentunya kali ini adalah waktu yang dinantikan semua anggota rombongan, yaitu Free Time To EIFFEL TOWER. Usai berganti pakaian, kunjungan pertama saya adalah monument Arch De Triomphe yang seolah tugu selamat datang bagi para wisatawan di Paris. Tempat yang harus di kunjungi sebelum menuju menara Eiffel, saya melanjutkan menelusuri Champ Elysse, sebuah jalan panjang yang di sisi kanan kirinya dipenuhi dengan outlet barang ber-merk kelas dunia. 




Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Eiffel Tower. Benar-benar perjalanan yang seru dan membuat sehat. Dari melintasi jembatan yang diatas Sungai Seine, akhirnya saya melihat Eiffel Tower. Meski menaranya masih terlihat kecil namun saya sudah tidak sabar untuk sampai di menara Eiffel tempat yang terkenal itu.











Akhirnya saya sampai di depan Eiffel Tower. Tampak tumpukan barisan panjang pengunjung yang ingin naik ke menara tersebut. Saya agak kecewa karena tidak bisa menaiki menara Eiffel tetapi kekecewaan itu pun hilang dengan membeli sebuah es krim seharga 4 euro yang sangat enak. Setelah berfoto dan menghabiskan waktu hari pun mulai gelap, saya dan group saya tidak bisa berlama-lama lagi di menara Eiffel. Karena bus sudah menanti membawa rombongan untuk menuju penginapan malam di Malakoff, pinggir kota Paris.


Hari sudah gelap saat saya tiba di Malakoff. Sementara menunggu mendapat kamar hostel saya dan group saya menikamti makan malam di depan kantor resepsionis Studio Penichio Mountroge. Berubahnya pengaturan check in yang makan waktu lama membuat Mr. Adri sang supir bus gelisah, karena bus tidak bisa parker lebih lama lagi di jalan itu. Akhirnya saya dan group saya turun tanpa mengeluarkan koper dari bagasi, dengan hanya membawa tas hand carry masing-masing. 

Setelah meninggalkan lokasi, barulah IO saya membagi-bagi tim untuk menempati kamar masing-masing. Ternyata kamar yang dimaksud adalah rumah-rumah penduduk di sekitar komplek tersebut yang memang di kosongkan dan disewakan, dan ruang resepsionis tadi adalah kantor pemasaran dari rumah-rumah sewa tersebut. Jadilah setiap tim mendapatkan kunci rumah dan denah lokasi rumah masing-masing yang kemudian harus dicari sendiri dimana lokasi rumah-rumah tersebut. Lokasi rumah tersebut berjauhan satu sama lain, sehinggal bisa dibanyangkan suasana cukup tegang dari masing-masing tim dalam pencarian rumah yang akan ditempati, mengingat rombongan tidak mengenal sama sekali situasi dan lingkungan sekita, ditambah lagi hujan gerimis dan angin dingin.

Ada tim yang sukses menemukan rumah yang dituju, namun ada juga tim yang tidak menemukan rumah yang dituju termasuk saya. Saat saya mencari denah rumah tersebut, saya menanyakan beberapa orang sekitar yang sedang menjaga toko mereka dengan bahasa inggris, ternyata orang tersebut tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Karena orang Perancis tidak mau memakai bahasa negara lain selain bahasanya sendiri. Lalu saya melanjutkan mencari denah lokasi rumah yang saya tuju dengan melewati bar-bar dan orang-orang yang sedang mabok menambah ketengangan saya. Pada malam itu jam menunjukan pukul 23.00, bisa dibayangkan di negara orang jam 11 malam, dinegara sendiri saja takut malam-malam masih diluar apalagi di negara orang. Akhirnya saya menemui tim lain yang sedang menunggu kedapatan kamar.

Ternyata saat saya hampiri tim lain, mereka tidak bisa masuk ke dalam kamarnya karena beberapa alasan dan miskomunikasi antara resepsionis dan penyewa tempat tersebut. Semua cemas bingung harus bagaimana akhirnya kami menunggu pertolongan dari IO dengan memasang muka lelah. Dan finally kami mendapat tempat untuk menginap, dan saya bergegas langsung menarik koper dan masuk kedalam penginapan untuk beristirahat. 

Hari Keenam, Rabu 16 september 2015. Pukul 07.30 saya dan tim saya harus bergegas minggalkan kamar, untuk kembali menuju titik kumpul tempat resepsionis tadi malam. Pukul 08.00 seluruh anggota sudah berkumpul dan menunggu bus sambil menikmati pisang dan roti. Saya dan teman saya saling berceloteh menceritakan kejadian semalam. Pukul 08.30 bus tiba dan kembali masuk ke kota Paris dan mampir sejenak di Paris Le Grande Mosque, sebuah masjid besar di Paris. 


Group saya diberikan kesempatan lagi untuk turun sejenak di Musem Louvre yang terkenal dengan bentuknya seperti piraida berkaca. Museum yang terkenal dengan isinya berupa benda-benda bersejarah dunia, termasuk lukisan Monalisa karya maestro Leornardo Da Vinci. Perjalanan dilanjutkan kembali ke Menara Eiffel dari sisi Trocadero. Dari Eiffel Tower bus bergerak menuju tempat yang bernama Sacre Coeur, yang berada di sekitar daerah Mont Marte. Selain terkenal dengan bangunan gereja antiknya, tempat ini juga terkenal sebagai surganya belanja Murah.


Usai berbelanja di Sacre Couer, sore itu saya bergerak kearah Thionville, menuju Hotel Premiere Class yang terletak di perbatasan Perancis dan Luxemburg.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar