Minggu, 02 Oktober 2016

Jadi Anggota Paduan Suara - Numpang lewat di Luxemburg sampe mampir ke Jerman nyanyi depan Walikota Aachen

Saya menuju Hotel Premiere Class yang terletak di perbatasan Perancis dan Luxemburg. Dalam perjalanan menuju Thionville saya sempat mampir ke rest area untuk buang air dan makan malam di Burger King. Disana juga ada minimarket yang menjual berbagai snack. Selain snack ternyata minimarket itu juga menjual alat-alat untuk kebutuhan lain, seperti chasan hanphone, case, dan ternyata juga menjual boneka-boneka lucu. Lalu saya melanjutkan perjalanan saya menuju hotel.

Malam hari, rombongan group saya tiba di Hotel Premiere Class Thionville. Tempat menginap kali ini terasa begitu nyaman, dan tentunya berada dalam satu bangunan yang sama sehingga rombongan tidak terpisah-pisah. Setelah melakukan packing koper yang semakin penuh dengan oleh-oleh, semua anggota group saya tertidur lelap.

Hari ketujuh, 17 September 2015. Pukul 06.00 pagi waktu Luxemburg, saya bersiap mandi dan mengenakan kostum tampil, lalu saya menuju ruang makan untuk makan sarapan semangkuk sereal, roti selai cokelat nuttela, dan secangkir susu segar. Pukul 07.30 setelah sarapan saya dan group saya meninggalkan Hotel Premiere Class untuk melintasi Luxemburg menuju Jerman yaitu di kota Aachen. Dalam perjalanan melintasi Luxemburg, saya menikmati pemandangan yang begitu indah. Rumah-rumah dengan atap meruncing, rumput-rumput hijau, dan pemandangan khas lainnya.

Sambil menikmati perjalanan saya dan group saya melakukan pemanasan suara, berlatih untuk persiapan penampilan di depan Bapak Walikota Aachen.

Memasuki kota Aachen, saya dan rombongan segera turun dari bus dan berjalan kaki di pandu dengan mahasiswa Universitas Aachen menuju Kantor Walikota Aachen. Perjalanan yang cukup jauh tetapi sangat seru karena teman-teman saya sandal slopnya pada jebol dan memutuskan berjalan kaki dengan kaki telanjang (nyeker) untungnya sandal saya tidak rusak tetapi memang pegal untuk berjalan kaki jauh dengan memakai sandal slop. Selain itu saya dan group saya juga membawa angklung masing-masing dengan memakai kostum yaitu rok batik. Anginnya cukup kencang dan dingin jadi selama perjalanan anggota perempuan termasuk saya sibuk memegangi angklungnya dan rok agar tidak terbang terbawa angin haha. 


Tiba di kantor walikota Aachen, group saya bertemu ibu Ning. Ibu Ning ini sudah lama tinggal di Aachen. Beliau yang membantu agar group saya dapat bertemu dengan bapak Walikota Aachen. Sebagai orang yang sudah kenal lama dengan Bapak Walikota, Bu Ning ingin memberikan sedikit hadiah dari Indonesia kepada Bapak Walikota Aachen tersebut berupa sajian penampilan group saya, karena tahun ini merupakan tahun terakhir Bapak Walikota tersebut bertugas.


Setelah penyambutan di dalam ruangan utama kantor walikota, group saya memberikan kenang-kenangan untuk Bapak Walikota Aachen. Group saya juga menyanyikan sedikit potongan lagu ‘Thank you For The Music’ di depan beliau sebagai ungkapan terimakasih atas penyambutannya. Potongan lagu tersebut ternyata berhasil memikat Bapak Walikota.

Mungkin karena senang dengan penampilan group saya, usai penyambutan tersebut Bapak Walikota bersedia menjadi guide dan mengantar group saya berkeliling bangunan kantor nya yang sudah berusia 800 tahun itu.

Memasuki lantai 3, ruangan yang begitu megah dan atap ruangan yang tinggi dan dinding-dinding ruangan di penuhi lukisan peninggalan sejarah, itu merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan group saya bisa memasuki ruangan itu. Ruangan itu biasanya dipakai untuk acara-acara penting dan tidak sembarang orang bisa masuk ruangan itu. Didalam gedung itu group saya mencoba menyanyikan 2 lagu untuk mengetahui bagamaina suara yang dihasilkan bila bernyanyi di dalam ruangan itu, ternyata suara yang dihasilkan sangat bagus dan membuat saya yang bernyanyi merinding.

Setelah diajak berkeliling, Bapak Walikota mempersilhkan group saya mempersiapkan diri untuk penampilan angklung di halaman depan kantor. Orang-orang yang berlalu lalang di depan kanto berhenti sejenak untuk menyaksikan penampilan group saya.

Penampilan angklung dari group saya membawakan 2 lagu yaitu ‘Gambang Suling’, dan ‘Besame Mucho’. Setelah selesai membawakan 2 lagu, penonton semakin banyak mengerumuni group saya. Usai mendengar lagu ‘Besame Mucho’, Bapak Walikota mendeketai guru saya Kak Charles seraya membisikkan pesan ‘Please tell you student, tell them this is my favorite song, because this is my wedding song..’ demikian katanya. Mendengar Bapak Walikota berbicara seperti itu, saya dan group saya semakin semangat membawakan lagu-lagu. Walupun tampil diluar ruangan hembusan angin dingin yang cukup kencang,kami sangat bersemangat memainkan angklung-angklung yang tertiup angin kencang. Kami memainkan lagu 2 lagu ‘We Are The Champion’, dan ‘Rasa Sayange’ karena permintaan tambahan lagu dari penonton. Masyarakat yang menonton sangat senang dan memberikan sambutan meriah. Akhirnya group saya benear-benar menutup penampilannya. Setelah berfoto bersama Bapak Walikota. 



Saya kembali berjalan kaki melanjutkan perjalanannya. Kali ini saya dan group saya ditunggu di kampus Universitas Aachen oleh Julia, Mahasiswa Jursuan Bahasa Inggris di kampus tersebut. Julia mengajak berkeliling area kampus yang luas itu, dan sesekali masuk kedalam ruang kuliah yang besar sekali seperti teater.

\



Suatu kebanggaan pula bagi saya dapat diajak berkeliling di kampus tersebut, meningat dimasa lalu kampus ini sempat menjadi tempat Bapak B.J Habibie ; Presiden ke-3 Indonesia, menyelesaikan pendidikan s-2 dan s-3 melalui program beasiswa.



Setelah berkeliling dan melihat-lihat Universitas Aachen, saya melanjutkan perjalanan meuju Drielandenpunt, sebuah tempat dimana 3 negara yaitu Belanda, Jerman, dan Belgia, bertemu di satu titik perbatasan.


Jadi Anggota Paduan Suara - Nyanyi di kantor UNESCO dan main ke menara Eiffel

Pukul jam 11.00, Usai melakukan pemanasan anggota putrid group saya histeris saat melihat menara Eiffel dari kejauhan. Setelah peristiwa heboh melihat Eiffel dari bus berlalu, bus mulai mendekati kantor UNESCO.


Pukul 12.00, para tamu undangan yang terdiri para duta besar berbagai negara dan pejabat lainnya sudah hadir dalam ruang pertunjukan. Tamu-tamu kehormatan tersebut diundang untuk makan siang menikmati kuliner Indonesia oleh Dubes Indonesia. Namun sebelum menikmati hidangan, mereka dihibur lebih dahulu dengan penampilan paduan saura dan angklung dari group saya yaitu Gita Swara Nassa (GSN).

Usai acara, saya menikmati makan siang kuliner khas Indonesia. Di akhir acara bapak Dubes Indonesia yaitu Bapak Fauzi Soelaiman memberikan sambutan khusus untuk tim GSN dan sedikit menjelaskan tugas beliau sebagai duta besar Indonesia untuk UNESCO. Lalu group saya berfoto bersama dan member kenang-kenangan kepada Bapak Fauzi. 



Rombongan group saya bergerak meninggalkan kantor UNESCO. Tentunya kali ini adalah waktu yang dinantikan semua anggota rombongan, yaitu Free Time To EIFFEL TOWER. Usai berganti pakaian, kunjungan pertama saya adalah monument Arch De Triomphe yang seolah tugu selamat datang bagi para wisatawan di Paris. Tempat yang harus di kunjungi sebelum menuju menara Eiffel, saya melanjutkan menelusuri Champ Elysse, sebuah jalan panjang yang di sisi kanan kirinya dipenuhi dengan outlet barang ber-merk kelas dunia. 




Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Eiffel Tower. Benar-benar perjalanan yang seru dan membuat sehat. Dari melintasi jembatan yang diatas Sungai Seine, akhirnya saya melihat Eiffel Tower. Meski menaranya masih terlihat kecil namun saya sudah tidak sabar untuk sampai di menara Eiffel tempat yang terkenal itu.











Akhirnya saya sampai di depan Eiffel Tower. Tampak tumpukan barisan panjang pengunjung yang ingin naik ke menara tersebut. Saya agak kecewa karena tidak bisa menaiki menara Eiffel tetapi kekecewaan itu pun hilang dengan membeli sebuah es krim seharga 4 euro yang sangat enak. Setelah berfoto dan menghabiskan waktu hari pun mulai gelap, saya dan group saya tidak bisa berlama-lama lagi di menara Eiffel. Karena bus sudah menanti membawa rombongan untuk menuju penginapan malam di Malakoff, pinggir kota Paris.


Hari sudah gelap saat saya tiba di Malakoff. Sementara menunggu mendapat kamar hostel saya dan group saya menikamti makan malam di depan kantor resepsionis Studio Penichio Mountroge. Berubahnya pengaturan check in yang makan waktu lama membuat Mr. Adri sang supir bus gelisah, karena bus tidak bisa parker lebih lama lagi di jalan itu. Akhirnya saya dan group saya turun tanpa mengeluarkan koper dari bagasi, dengan hanya membawa tas hand carry masing-masing. 

Setelah meninggalkan lokasi, barulah IO saya membagi-bagi tim untuk menempati kamar masing-masing. Ternyata kamar yang dimaksud adalah rumah-rumah penduduk di sekitar komplek tersebut yang memang di kosongkan dan disewakan, dan ruang resepsionis tadi adalah kantor pemasaran dari rumah-rumah sewa tersebut. Jadilah setiap tim mendapatkan kunci rumah dan denah lokasi rumah masing-masing yang kemudian harus dicari sendiri dimana lokasi rumah-rumah tersebut. Lokasi rumah tersebut berjauhan satu sama lain, sehinggal bisa dibanyangkan suasana cukup tegang dari masing-masing tim dalam pencarian rumah yang akan ditempati, mengingat rombongan tidak mengenal sama sekali situasi dan lingkungan sekita, ditambah lagi hujan gerimis dan angin dingin.

Ada tim yang sukses menemukan rumah yang dituju, namun ada juga tim yang tidak menemukan rumah yang dituju termasuk saya. Saat saya mencari denah rumah tersebut, saya menanyakan beberapa orang sekitar yang sedang menjaga toko mereka dengan bahasa inggris, ternyata orang tersebut tidak mengerti bahasa inggris sama sekali. Karena orang Perancis tidak mau memakai bahasa negara lain selain bahasanya sendiri. Lalu saya melanjutkan mencari denah lokasi rumah yang saya tuju dengan melewati bar-bar dan orang-orang yang sedang mabok menambah ketengangan saya. Pada malam itu jam menunjukan pukul 23.00, bisa dibayangkan di negara orang jam 11 malam, dinegara sendiri saja takut malam-malam masih diluar apalagi di negara orang. Akhirnya saya menemui tim lain yang sedang menunggu kedapatan kamar.

Ternyata saat saya hampiri tim lain, mereka tidak bisa masuk ke dalam kamarnya karena beberapa alasan dan miskomunikasi antara resepsionis dan penyewa tempat tersebut. Semua cemas bingung harus bagaimana akhirnya kami menunggu pertolongan dari IO dengan memasang muka lelah. Dan finally kami mendapat tempat untuk menginap, dan saya bergegas langsung menarik koper dan masuk kedalam penginapan untuk beristirahat. 

Hari Keenam, Rabu 16 september 2015. Pukul 07.30 saya dan tim saya harus bergegas minggalkan kamar, untuk kembali menuju titik kumpul tempat resepsionis tadi malam. Pukul 08.00 seluruh anggota sudah berkumpul dan menunggu bus sambil menikmati pisang dan roti. Saya dan teman saya saling berceloteh menceritakan kejadian semalam. Pukul 08.30 bus tiba dan kembali masuk ke kota Paris dan mampir sejenak di Paris Le Grande Mosque, sebuah masjid besar di Paris. 


Group saya diberikan kesempatan lagi untuk turun sejenak di Musem Louvre yang terkenal dengan bentuknya seperti piraida berkaca. Museum yang terkenal dengan isinya berupa benda-benda bersejarah dunia, termasuk lukisan Monalisa karya maestro Leornardo Da Vinci. Perjalanan dilanjutkan kembali ke Menara Eiffel dari sisi Trocadero. Dari Eiffel Tower bus bergerak menuju tempat yang bernama Sacre Coeur, yang berada di sekitar daerah Mont Marte. Selain terkenal dengan bangunan gereja antiknya, tempat ini juga terkenal sebagai surganya belanja Murah.


Usai berbelanja di Sacre Couer, sore itu saya bergerak kearah Thionville, menuju Hotel Premiere Class yang terletak di perbatasan Perancis dan Luxemburg.

Jadi Anggota Paduan Suara - Numpang tidur di Belgia kota Brussels

Awan yang tadinya cerah berwarna biru sudah hilang menjadi awan yang gelap berwarna abu-abu saat saya melanjutkan perjalanan ke Belgia dan memasuki kota Brussels. Di Brussels, saya sempat mampir di pom Bensin untuk mengambil catering makan malam dari catering ‘Bang Ucok’ Brussels. Di pom bensin ini saya dan group saya tidak diperbolehkan turun karena hujan deras yang menyirami kota Brussels.


Usai mengambil konsumsi makan malam, saat dalam perjalanan hujan deras pun mulai mereda, lalu saya mengunjungi bangunan khas kota Brussels yaitu Atomium Building, bangunan ini menyerupai bentuk atom, tetapi saya dan group saya hanya bisa mampir untuk foto sebentar karena mengejar waktu, supir bus disana dalam mengemudi pun terbatas sesuai jam kerja di Eropa, sehingga penumpang tidak bisa sembarang minta tambahan waktu untuk sekedar mampir disana sini. Tapi berkat IO group saya yaitu Om Andi dalam bertutur mampu membuat supir rela mengantarkan group saya kesini sekedar untuk berfoto sejenak.

Pukul 19.30 akhirnya saya tiba di Wellness Apart Hotel Brussels Belgia. Hotel yang sangat bersih, dan dilengkapi dengan Lift. Malam itu saya bisa menikmati istirahat dengan nyaman, karena di hotel yang saya tempati di Belanda sebelumnya kurang nyaman walaupun suasana di hotel sana sangat menyenangkan. Jelang istirahat, ternyata dua orang anggota group saya meninggalkan hotel untuk sekedar melihat keindahan kota Brussels di malam hari ditemani dengan guru dari group saya. Tempat itu bernama Grand Palace, bangunan indah terkenal di Brussels. Saya iri sekali mereka bisa melihat keindahan kota Brussels sedangkan saya sudah terlelap di kasur hotel yang nyaman itu.


Hari kelima, Selasa 15 Sepetember 2015. Pukul 05.30 waktu Brussels, rombongan group saya sudah bersiap kembali lengkap dengan bawaan koper masing-masing di Lobby Hotel untuk sarapan pagi. Tak lama kemudian jam 6.30 bus pun tiba. Sebelum saya melanjutkan perjalanan saya ke Perancis saya menyempatkan diri untuk berfoto di Brussels yang berlatar belakang bangunan khas kota Brussels dan ada Kereta Listrik yang sedang lewat. Lalu saya melanjutkan perjalanan menuju Perancis.


Rombongan group saya harus tiba di kantor UNESCO Paris pukul 11.00, demikian pak Dubes Indonesia untuk UNESCO mewanti-wanti group saya saat bertemu di UID Utrecht kemarin. Semua berharap perjalanan meunuju Paris lancar.

Mulai memasuki highway nya Brussel perjalanan masih mulus. Namun tak berapa lama jalan tol ini tersendar. Dari papan pengumuman digital tertera info di depan sana ada sebuah mobil mengalami gangguan, sehingga ruas jalan terhambat sepanjang 9 kilometer.

Untuk mengisi perjalanan, guru saya Kak Charles mengundang Azzahra Humaira, kakak dari salah satu anak di group saya yang sedang studi di Jerman bidang kedokteran, untuk bediri didepan memberikan wawasan tentang studi dan menjelaskan segala tahapan untuk bisa dapat kuliah di Eropa. Kak Zahra yang bergabung dengan group saya sejak dari Utrecht ini menyampaikan materi layaknya guest teacher. Beruntung sekali saya mendapat penjelasan langsung dari Kak Zahra yang sudah benar-benar terjun dalam proses pendidikan di Eropa.


Selama hampir 3 jam Kak Zahra menyampaikan materi, Waktu menunjukkan pukul 10.00, namun bus belum memasuki kota Paris. Akhirnya saya dan group saya harus memakai kostum di bus bergiliran dengan anak-anak yang membantu menutupi memakai kain. Selesai berganti pakaian jam group saya melakukan pemanasan bernyanyi di dalam bus sembari menunggu sampai nya di UNESCO Paris.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Jadi anggota paduan suara - Jalan-jalan ke beberapa kota terkenal di Belanda

Hari keempat, Senin 14 September 2015. Pukul 07.00 pagi hari yang dingin,berangin, dan gerimis, group saya sudah rapih bersiap mengeluarkan koper dari kamar masing-masing. Dan langsung menuju cafeteria untuk makan pagi, makan pagi terakhir di Utrecht. Sepiring pancake, roti sandwich dan telor mata sapi menu makanan setiap sarapan di Utrecht. Pukul 08.00 semua koper dan barang-barang sudah tersusun rapih diluar hostel untuk segera dimasukkan ke dalam bus.

Setelah menanti 2 jam dan menyelesaikan miskomunikasi dengan bus travel yang dipesan, akhirnya rombongan group saya berangkat meninggalkan Hostel BnB Utreht.

Hari itu saya akan mengunjungi tempat-tempat menarik di Belanda. Ajax Stadion menjadi kunjungan pertama untuk para anak putra di group saya, tetapi anak putrid di group saya termasuk saya juga fine-fine aja mendatangi tempat ini karena disitu ada tempat belanja souvenir dan nambah-nambah untuk foto kenang-kenangan hehehe. Kemudian berlanjut keliling Amsterdam, melihat rapinya kota Amsterdam, sungai yang bersih, penduduk ber lalu-lalang menggoes sepedanya, dan penduduk yang berjalan kaki menghirup segarnya udara. Saya juga melewati tempat yang terkenal dan menarik untuk di kunjungi yaitu Madame Tussauds.
.

Selama perjalanan pemandangan yang indah di luar kaca bus, rumput-rumput yang hijau, kincir angin yang berputar, sapi-sapi dan domba-domba yang sedang memakan rumput. 


Kunjungan berikutnya adalah desa nelayan Volendam. Di tempat ini juga saya menukar bus dengan yang lebih besar. Disini pemandangan pantai nya sangat indah, ada kios-kios yang menjual berbagai macam souvenir, dan yang tidak boleh dilewatkan bagi para pengunjung yang datang kesini adalah berfoto dengan mengenakan kostum tradisional Belanda yang khas. Usai berfoto saya berbelanja souvenir untuk oleh-oleh. Sambil menikmati suasana pantai yang tenang saya memakan kentang goreng dan ikan fillet ukuran jumbo.




Pada jam 14.00 saya kembali melanjutkan perjalanan saya menuju Brussels menaiki bus yang sudah ditukar tadi. Makan siang yang semula direncanakan dipinggir pantai Volendam, akhirnya dinikmati dalam perjalanan di bus menuju Brussels, tapi bagi saya tidak apa karena tadi sudah saya makan sedikit jajanan disana..

Jadi Anggota Paduan Suara - Nyanyi di Belanda bareng teman-teman

Nah jadi di blog kali ini saya akan bahas tentang travel gua ke Belanda atau Netherland. Belanda ini salah satu negara di benua Eropa, ibu kotanya adalah Amsterdam sedangkan pusat pemerintahan, dan kedudukan monarkinya berada di Den haag. Nah kalau yang belum tau nih Belanda secara geografis merupakan negara berpermukaan rendah, dengan kira-kira 20% wilayahnya, dan 21% populasinya berada di bawah permukaan laut, dan 50% tanahnya kurang dari satu meter di atas permukaan laut. Kenapa dinamakan Netherland? sebab artinya itu "negeri-negeri yang berdaratan rendah". Saat saya ke belanda jarang banget ada pegunungan yang ada cuma bukit-bukit. Karena itu negara ini sebagian besar wilayahnya sangatlah datar.

Tanggal 10 September 2015 saya berangat ke Belanda, tapi sebenernya saya berangkat ke Belanda gak sendirian, saya itu ke belanda bareng group Gita Swara Nassa yaitu paduan suara di sekolah saya Nasional I, jadi saya ke belanda bukan sekedar jalan-jalan aja tapi  membawa nama baik Indonesia untuk misi budaya acara Utrecht Indonesian Day (UID) di belanda tepatnya di kota Utrecht. Saya berangkat ke belanda dari Indonesia jam 19.30 malam di bandara Soekarno-Hatta, sebelum saya sampai di Belanda pesawat saya sempet transit di bandara Singapore selanjautnya saya menlanjutkan perjalanan ke Belanda selama 16 jam dan akan sampai di Belanda pada jam 09.00 pagi.

           
Dan akirnya saya sampai di bandara Schippol Amsterdam. Saat saya sampai di belanda, group saya disambut kedatanganya oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) sekaligus panitia pembuat acara UID. Saya sempet gak nyangka banget bisa keluar negri pertama kalinya langsung ke Eropa.



Hari pertama di Belanda group saya dijemput oleh bus yang sudah di pesan, saya melanjutkan perjalanan gua ke kota Utrecht, sambil di perjalanan saya melihat kanan kiri jendala langitnya sangat biru dan di kiri kanan jalanan terlihat kincir angin yang berputar menambah keindahan alam di sana. Saya dan group gua mampir sejenak di Masjid Maroko untuk melaksanakan Shalat Jum'at. Pengalaman yang mengensakan bertemu dengan rombongan komuniats muslim di negeri Eropa. Usai Shalat jum'at rombongan group saya menikmati makan siang KateringDapur Ummi yang menyajikan menu Indonesia. Udara disana sangat sejuk dan cerah juga angin sepoi yang cukup dingin.

Saya melanjutkan perjalanan lagi menuju Hostel BnB Utrecht. Hostel yang berlantai 4 yang akan ditempati selama 3 malam kedapan. Malam pertama di Utrecht ditemani dengan rintik air hujan saya langsung beristirahat di Hostel. Hari kedua saya di Belanda didepan Hostel BnB ada sebuah taman kota yang indah disana ada kursi duduk, air mancur, dan sungai buatan. Dihari itu group saya akan tampil Pre Event UID Concert di Stasiun  Centraal, rombongan group saya berjalan menyusuri ruas jalan di Utrecht menuju Stasiun Centraal. Mentari pagi bersinar cerah, memberi sedikit sentuhan kehangatan di pagi yang dingin. Tiba di stasiun Centraal, group saya tampil disalah satu sudut stasiun yang terdapat piano bertuliskan 'Show your talent', dimana ditempat itu semua pengunjung dapat menampilkan segala potensi seni yang dimiliki.

Group paduan suara saya disana menampilkan sebagian lagu-lagu yang akan ditampilkan saat acara UID sebagai promosi untuk mengundang pengunjung menonton penampilan kami di acara UID. Lagu-lagu yang group saya nyanyikan yaitu : 'The Sound of music', 'Dance of sugar plum fairy' karya Tchaikovsky, 'Geef meij maar Nasi Goreng', 'Als de Orchideen Bloeien, dan 'Medley Lagu daerah Indonesia'  dengan mulus meluncur dinyanyikan dan berhasil mengundang tepuk tangan meriah dari penonton. Selain menyanyikan lagu-lagu tersebut group saya juga menampilkan musik angklung. Dimulai dengan lagu 'Kampuang nan jauh dimato', 'Tulip Uit Amsterdam', 'Besame Mucho', dan 'W
e are the champion'. Penonton kembali memberi tepuk tangan meriah usai setiap lagu dilantunkan.


Pertunjukan berakhir dengan sukses. Tak sedikit penonton yang masih tetap bertahan ditempat, yang mungkin mengira group saya akan menampilkan encore. Lanjut cerita usai tampil rombongan group saya kembali ke Hostel untuk beristirahat. Hari ketiga Minggu pagi pukul 10.00 seluruh rombongan group saya sudah bersiap didepan BnB Hostel untuk menuju Teater Rasa, Tempat acara UID dilangsungkan. Jalan menuju Teater melewati bangunan-bangunan cantik khas Eropa, 30 menit berselang akhirnya group saya tiba di Teater Rasa. Dari pintu luar, bangunan teater terlihat tidak terlalu besar, namun begitu tiba didalam ternyata cukup besar dan bisa menampung lebih dari 700 orang.



Sambil menantikan jadwal uji coba panggung, Saya makan siang dan bersiap munuju ruang ganti untuk mengenakan kostum dan berdandan. Pada jam 16.00 acara pun dimulai bukan hanya group saya saja yang akan tampil melainkan ada banyak group lain yang akan menampilkan tarian,band dan lain-lain. Ternyata Bapak Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Bapak Duta Besar Indonesia untuk UNESCO Paris, juga datang untuk melihat acara UID. Jam 18.30 giliran group saya tampil dalam acara UID. Group yang sudah berlatih sejak berbulan lalu seolah sudah tak sabar meunjukan hasil latihan tersebut. Usai MC memanggil Group paduan suara,  29 anggota masuk satu dengan berbaris rapi dan siap menyanyikan lagu-lagu yang sudah kami latih. Pada sesi pertama dengan 'Als de Orhchideen Bloeien'. Lagu berbahasa Belanda yang dikenal di indonesia sebagai lagu 'Bunga Anggrek'. Selanjutnya menampikan 1 lagu manis bertempo lambat dan berbahasa Perancis ‘Le Chansons d’amour’.


Semua lagu meluncur dengan rapi dan selalu mengundang tepuk tangan meriah dari penonton. Group saya menutup penampilan dengan lagu andalan 'We Are The Champion'. Saat lagu ini ditampilkan, di layar juga ditampilkan tokoh-tokoh dari Indonesia yang sukses menoreh prestasi dunia, baik di bidang olahraga maupun bidan lainnya. Akhirnya MC menutup acara UID sambil diiringi lagu 'Kebyar-kebyar' oleh seluruh anggota group saya. Pada jam 22.00 group saya kembali berjalan kaki sembari melawan suhu udara yang makin dingin.Tiba di Hostel BnB, sebelum beristirahat harus melanjutkan packing koper karena esok pagi akan meninggalkan Utrecht. Hari yang melelahkan namun penuh cerita manis.